Sejak Presiden RI mengucapkan kata “Endasmu” dalam sebuah pidato, banyak yang membuat parodi di medsos menggunakan kata tersebut. Umumnya bernada kritik dengan satu argumentasi ke arah bahwa kata itu tidak layak diucapkan oleh pemimpin tertinggi di negeri ini.
Saya teringat, kata “Endasmu” ini sudah menjadi kosakata makian atau misuh favorit saya sejak lama dan menjadi bahasa Jawa pertama yang meresap ke relung jiwa. Entah disengaja atau tidak..:v :v
Banyak kata makian selain Endasmu yang sering digunakan. Salah satunya kata “Anjay” yang populer di kalangan muda, terutama di wilayah Jawa Barat.
Sebagaimana kata “Endasmu”, kata “Anjay” saya sepakat dilarang jika penggunaannya dilakukan oleh anak-anak. Namun, jika dituturkan oleh orang dewasa, jangan serta merta dilarang. Saya kasih kata kuncinya, bahwa “makian tidak hanya berfungsi sebagai makian, tetapi ia adalah filsafat”.
Kata “Anjay” adalah sulihan atau perhalusan kata dari kata “Anjing”. Dalam budaya Sunda, kata ini sama dengan kata “Anjrit”. Namun, di budaya Sunda sudah mengalami perkembangan makna. Anjrit tidak digunakan untuk makian, tetapi untuk menunjukkan kagum atau bahasa keakraban.
Dalam bahasa Inggris, sulihan semacam ini juga terjadi. Anak milenial sekarang banyak menggunakan kalimat “What The Heck“. Kalimat ini juga sulihan atau perhalusan makna dari kalimat “WTF” dan “What The Hell” yang memang dinilai kasar. Apakah What The Heck sama dengan kadar WTF atau WTH? Tidak. Beda itu.
Sebagaimana alam yang berevolusi, bahasa pun berevolusi. Bahasa mengalami perkembangan yang luar biasa. Sebetulnya bukan di kata “Anjay” atau arti katanya, tetapi di intonasi dan motif penuturan, jika ingin melihat sebuah kata itu makian atau bukan.
Makian halus dengan kata “Jangkrik” misalnya, juga hampir sama dengan Anjay, merupakan plesetan dari kata “Jancuk” ala Suroboyoan yang dipengaruhi dari ungkapan dalam suatu film. Apakah ini makian? Bukan. Hanya ekspresi.
Peradaban ditandai dengan perkembangan bahasa. Jangan pernah membatasi bahasa, karena bahasa adalah cara berekspresi. Hal yang harus diubah adalah motif dan cara pandangnya, bahwa tidak boleh intimidatif. Bukan bahasanya.
Bahasa halus pun jika disampaikan dengan cara melotot, maka bentuknya adalah intimidatif.
Tidak semua bahasa, terlebih lagi bahasa di medsos, bisa dikenali secara mudah seperti di bahasa tatap muka. Teks lebih ekspresif dan multi tafsir. Bisa jadi teksnya sama tetapi saat membaca bisa berubah makna. Berbeda cara membaca, beda makna.
Ada banyak parodi dibuat mengenai masalah tersebut, misalnya:
Frasa 1: Masukkan dua sendok makan garam
Frasa 2: Masukkan dua sendok, makan garam
Frasa 1 dan Frasa 2 hanya berbeda dari koma saja. Namun, itu mengubah secara signifikan makna dan prakteknya.
Frasa pertama tanpa koma akan memasukkan dua sendok garam sebanyak dua sendok makan (ukuran sendok makan).
Akan tetapi, frasa kedua dengan koma, maknanya berubah drastis, menjadi memasukkan dua sendok ke tungku kemudian makan garam..wes angeeeel..:v :v
Kembali ke kata “Endasmu”.
Endasmu dalam budaya Jawa dikenal sebagai makian atau dalam bahasa Inggrisnya cursing. Tidak semua makian itu buruk, dan tidak semua yang buruk itu harus dimaki.
Sebagaimana telah saya sebutkan kata kuncinya di awal, bahwa “makian dalam kondisi tertentu adalah filsafat”.
Zachary Fruhling pernah menulis satu artikel menarik, judulnya “The Philosophy of Cursing: Heidegger and Wittgenstein on Being-in-the-World and the Language-Game of Cursing“. Satu artikel yang membahas secara detail mengenai posisi makian (cursing) dalam kajian filsafat.
Martin Heiddeger, seorang filosof eksistensialis, pernah menulis khusus dalam buku Being and Time tentang makian dalam perspektif filsafat.
Dalam pandangan Heidegger, makian merupakan bagian dari cara manusia berada di dunia (Being-in-the-World). Makian bukan sekadar kata-kata kasar, tetapi refleksi dari keterlibatan emosional dan eksistensial seseorang dalam situasi tertentu.
Makian muncul ketika seseorang menghadapi situasi yang mengganggu atau mengancam keberadaannya. Ini menunjukkan bagaimana manusia merespons dunia sekitarnya secara otentik, terutama ketika menghadapi ketidaknyamanan atau ketidakberdayaan.
Heidegger menekankan bahwa makian adalah bentuk ekspresi yang menunjukkan keterhubungan manusia dengan dunia dan situasi yang dihadapinya.
Begitu pun menurut Wittgenstein, seorang filosof bahasa terkemuka yang hidup antara tahun 1889-1951, dalam karya masterpiece-nya Philosophical Investigations, pernah menyoroti tentang filsafat makian.
Wittgenstein memandang makian sebagai bagian dari “permainan bahasa” (language-game). Dalam konsep ini, makna kata atau frasa bersifat tidak tetap, tergantung pada konteks penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari.
Makian memiliki fungsi sosial dan komunikatif tertentu. Misalnya, makian bisa digunakan untuk mengekspresikan kemarahan, frustrasi, atau bahkan solidaritas dalam kelompok tertentu.
Wittgenstein menekankan bahwa makian adalah bagian dari praktik linguistik yang kompleks, di mana makna dan penggunaan kata-kata ditentukan oleh aturan sosial dan konteks budaya.
Dengan demikian, kedua filosof tersebut hendak mengatakan bahwa makian bukan sekadar kata-kata kasar, tetapi memiliki dimensi filosofis yang mendalam. Makian mencerminkan cara manusia berinteraksi dengan dunia dan bahasa, serta menunjukkan kompleksitas pengalaman manusia.
Makian (cursing) yang menggunakan kata yang dianggap “kasar” tidak hanya digunakan oleh manusia, bahkan dalam kitab suci pun dapat ditemukan makian menggunakan beragam kata. Misalnya, dengan menggunakan bahasa metafora.
Hal itu bisa ditemukan, misalnya, dalam sebuah ayat bahwa “mereka seperti binatang, bahkan lebih sesat” (ulaika kal an’am bal hum adhol) (QS. Al-A’raf:179).
Tuhan dalam ayat itu “memaki” manusia yang tidak menggunakan mata, telinga, dan hatinya dengan menyebutnya seperti binatang, bahkan lebih sesat dari binatang.
Pada ayat yang lain, disebut kata makian kepada manusia yang disampaikan oleh Tuhan secara jelas, bahwa “mereka tuli, bisu, dan buta (shummun, bukmun, ‘umyun) (QS. Al-Baqarah:18).
Kalau kita konsisten bahwa makian tidak boleh digunakan, nah itu buktinya Tuhan pun memaki.
Artinya, kita harus menafsirkan dengan cara yang berbeda, bahwa tidak semua makian itu buruk. Ada makna terdalam ketika manusia menggunakan kata “makian”, apalagi jika Tuhan sudah memaki, ampun itu. Pasti ada maksudnya. Kita seakan ditampar untuk menyadari suatu hal yang kadang tidak kita sadari.*