Bagaimana Cara Menganalisis Berita?

12 Aug 2011
24345 times
Illustrasi: discoverbuenosaires.com Illustrasi: discoverbuenosaires.com

Informasi yang diperoleh dari suatu berita hinggap di memori otak kita bersifat memory jangka pendek (Short Term Memory / STM). Namun berita juga dapat menjadi memori jangka panjang jika berita yang menginformasikan suatu peristiwa dilakukan dengan frekuensi tinggi, terus diulang-ulang dengan durasi yang tinggi pula.

Berita menjadi ingatan jangka panjang pemirsa biasanya menyangkut berbagai “isu-isu yang tidak biasa”  (uncommon issue) sehingga menjadi perhatian publik. Contoh nyatanya adalah berita-berita mengenai kasus Nazaruddin atau berita kecelakaan Saipul Jamil saat ini. Frekuensi pemberitaan tentang kasus ini sangat tinggi, bahkan hingga mencapai titik jenuh. Banyak orang yang merasa jenuh dengan berita itu-itu saja yang diangkat media.

Untuk menilai kebenaran atau validitas suatu berita tidaklah mudah, karena banyak hal yang mendasari munculnya suatu berita. Suzanne Pitner (pengajar dan aktivis media) pernah menulis artikel berjudul “How to Analyze the News“. Ia memberikan beberapa tips untuk menganalisis berita, yang ia singkat dengan istilah strategi COPS (Context, Opinion, Perspective, Sources):

1. Context: Kenali Berita sesuai Konteksnya!

Berita bersifat menginformasikan realitas yang bersifat sepotong-sepotong. Realitas diambil melalui kamera atau mata wartawan dan diinformasikan ke publik. Kamera dan mata wartawan tentunya memiliki keterbatasan. Pemilihan angle kamera dan fokus pemberitaan dari seorang wartawan yang bersifat subyektif pun ikut andil, sehingga berita tidak bisa menginformasikan realitas yang sebenarnya. Hal ini disebabkan adanya keterbatasan waktu, pelaporan media (khususnya pemberitaan melalui televisi) selalu memberikan sedikit informasi. Pemirsa harus bersedia membaca lebih lanjut untuk menemukan informasi yang menempatkan berita televisi dalam konteksnya.

Konteks berbeda dengan apa yang tampak. Konteks lawannya adalah teks (teks tidak terbatas pada tulisan tetapi dapat diperlebar maknanya pada apa saja yang tampak). Teks memberikan informasi yang bersifat denotatif, sedangkan konteks merupakan pemahaman dari makna teks yang bersifat konotatif. Pemahaman konotatif setiap orang berbeda-beda dari makna denotatifnya karena dipengaruhi latar belakang, pendidikan, dan sebagainya.

Sebagai contoh, sebuah berita tentang seorang selebriti memukuli pacarnya. Ini adalah teks. Maka, pemirsa yang tekstual akan melihat informasi ini sebagai sebuah informasi “telanjang”. Lantas dinilai secara “hitam atau putih”. Tetapi, pemirsa yang kontekstual tidak berhenti pada informasi yang tampak, akan tetapi akan mencari lebih dalam: kenapa peristiwa itu terjadi, kronologi peristiwa, cara untuk mencegah hal itu, dan apa yang harus dilakukan ketika menghadapi hal tersebut, adalah informasi yang dapat menempatkan berita ke dalam konteks.

2. Opinion: Pisahkan Pendapat dari Fakta!

Pendapat dari narasumber dalam berita atau opini dalam sebuah artikel bukan sebagai fakta. Tulisan wartawan atau opini penulis sebetulnya menulis sesuai dengan cara pandang dirinya, pemahaman dirinya, bukan fakta yang sesungguhnya. Fakta tidak berada dalam persepsi manusia, melainkan berada di luar persepsi manusia. Setiap orang berhak untuk mengklaim bahwa pendapat dirinya mewakili fakta, tetapi fakta tidak bisa diwakili oleh siapapun. Fakta berdiri sendiri. Opini manusia sesungguhnya semuanya bersifat subyektif. Persepsi manusia terhadap api tidak bisa menggambarkan api yang sesungguhnya, karena api persepsi tidak membakar sedangkan api sejati sifatnya membakar.

Meskipun pendapat tidak bisa seratus persen mewakili fakta, tetapi ada cara agar pendapat sedikitnya mewakili meskipun tidak benar-benar mewakili. Bagaimana caranya? Yaitu dengan metode hermeneutik. Metode hertemenutik adalah metode untuk menjembatani agar opini dapat berbasis pada fakta, yaitu dengan narasi yang lengkap, angka statistik dan tidak sepotong-sepotong. Tulisan berita umumnya tidak bisa menggunakan metode ini. Yang bisa adalah tulisan feature karena kaya akan deskripsi dari relung-relung terdalam dari realitas. Selain itu, harus disertai bukti yang digunakan dan dengan cara yang baik serta logis. Gambar-gambar dapat dijadikan alat bukti.

3. Perspective: Lihatlah Cara Pandang Pemberitaannya!

“Pemerintah telah gagal dalam menjamin keamanan negara, ada apa dengan negara ini…hhhhhhh”.

Kalimat tersebut sering didengar di editorial salah satu media di Indonesia, karena editorialnya dibacakan dengan illustrasi yang dianggap mewakili dari narasinya di televisi. Kalimat tersebut menunjukkan cara pandang media yang sangat subyektif. Kalimat tersebut bersifat emosional, bukan memberitakan. Media dengannya telah melakukan penilaian bahkan mengadili. Padahal media tidak punya kapasitas untuk menilai dan mengadili. Media adalah perantara (medium), dengannya cara pandang media harus independen.

Perspektif media tidak boleh tumpang-tindih dengan kepentingan. Dengan alasan  kendala waktu dan ruang maka media akan menentukan cerita mana yang mendapatkan ruang yang paling banyak, dan cerita mana yang diedit atau bahkan dipetieskan. Pertimbangan untuk melakukan tersebut harus dari perspektif publik bukan dari perspektif pemilik modal.

4. Sources: Bandingkan Berita dengan Banyak Sumber!

Media memiliki berbagai macam aliran, jika fokus hanya di satu media maka perspektif pembaca digiring untuk sama dengan perspektif yang digunakan oleh media. Berita mengenai satu kasus bisa berbeda penyampaiannya oleh media yang berbeda pula. Maka, salah satu cara untuk memahami berita yang sebenarnya adalah dengan memahami dari berbagai sumber. Teknik trianggulasi dapat digunakan. Trianggulasi adalah pembuktian informasi melalui berbagai sumber media atau dengan berbagai sumber opini.**[harja saputra]

———————-

Diadaptasi dari: Suzanne Pitner, How to Analyze the News, Media Literacy, Suite 101, http://www.suite101.com/content/how-to-analyze-the-news-a109806

2 comments

Komentar

Silahkan berkomentar melalui kolom di bawah ini.

Blog dengan aneka topik, tulisan Harja Saputra. Menulis apa saja. Berbagi untuk Anda